Status

SEDANG APA ANDA SORE INI

Sedang apa anda sore ini?. Saya sedang duduk diruang keluarga. Memangku sebuah buku, bersama donat buatan ibu, kopi seduhan istri dan rokok kretek dalam negeri. Sementara putri saya mengerjakan pekerjaan rumah. Putra saya belajar memahami angka bersama ibunya. Sebuah pemandangan sederhana. Namun perlu anda tahu bahwa saya tetap merasa begitu mewah.

Sudah berapa hari ini, kawan saya Omer dari sisi kota Rafah, melaporkan perkembangan keadaan disana. Serangan udara Israel paska gencatan senjata, tak pernah berhenti menghantam Gaza. Fighting Falcon F16, Drone dan Tank memborbardir Gaza dari pagi kesiang, dari sore kemalam. Menjatuhkan berton-ton peluru dan roket keatas pemukiman penduduk. Membunuh para jompo, ibu hamil dan bayi yang bahkan tak sempat bangun dari atas tempat tidur mereka. Lelaki seumur saya disana, didetik yang sama, tak akan sempat membaca buku. Mereka sedang panik mengevakuasi keluarganya, atau dalam geram dan luka bertarung mengharapkan pembalasan.

Sedang apa anda sore ini?. Saya sedang berusaha tidak mengeluh. Meski udara panas Jakarta menyengat melelahkan tubuh. Karena Jameela dari Pengungsian Nussirat mengirimkan photo anak-anak yang bertiarap sambil menangis. Ketika pesawat jet menderu diatas kepala mereka, yang dilanjutkan dentuman keras setelahnya. Mereka tak sempat mengerjakan pekerjaan rumah atau mempelajari angka bersama ibunya. Mereka dalam ketakutan, yang bahkan tak kan sanggup saya membayangkannya.

Sedang apa anda sore ini?. Sesederhana apapun yang saat ini anda kerjakan, patutlah anda bersyukur. Anda bukan di Gaza, atau anda tak pernah tahu apa yang terjadi di Gaza. Karena setiap kali menerima khabar dari sana, saya mengusap airmata.

© Yordansyah Djon Gomarathonda
www.yordansyah.com

Status

KEBENARAN SOSIAL MEDIA

Semenjak keluarga melek facebook, saya kadang stres sendiri. Karena derasnya informasi melalui sosial media begitu berhasil mempengaruhi opini mereka mengenai banyak persoalan. Dari obat-obatan, gaya hidup, keagamaan, politik, ekonomi dll. Yang membuat saya stres adalah ketika informasi itu dikonsumsi begitu saja dan sudah dianggap sebagai kebenaran. Kemudian dijadikan acuan mutlak yang tidak boleh dibantah dalam tindakan praksis. Padahal informasi publik yang tidak dapat diketahui asalnya dan belum dicrosscheck kepada faktanya adalah informasi yang sama sekali sesat. Siapa saja sangat bisa menuliskan apa saja disosial media, termasuk informasi yang salah.

Yang paling luar biasa adalah ketika PEMILU lalu. Hampir setiap hari kami membahas PEMILU dimeja makan hanya berdasarkan tulisan di Sosial Media. Dan saya duduk disitu sebagai seorang pembantah. Bisa dibayangkan nasib saya yang harus menjelaskan ulang satu-persatu tentang berbagai isu. Contoh saja, “Ternyata bapaknya si B itu keturunan komunis, ibunya itu gerwani!. Masak Indonesia mau dipimpin komunis?”. Saya menjawab, “Setahu saya itu isu, malah bapaknya si A itu yang jelas marxis. Semua orang tahu benar bapaknya si A itu tokoh Partai Sosialis Indonesia. Semua orang tahu benar bapaknya si A itu Anti-Agama. Itu isu pembalikan fakta.” Kemudian terjadi perdebatan, seakan saya berpihak kepada capres yang satu dan yang lain berpihak kepada capres yang lain. Padahal saya tidak bersedia berpihak kepada siapapun. Saya hanya tidak bisa membiarkan ketidak benaran. Apa yang saya sampaikan bukan isu, itu tercatat dalam buku sejarah Indonesia. Dan fakta itu tidak terbantahkan dalam sidang sejarah era manapun. Sungguh saya sangat merasa rendah dan timpang ketika kita harus memperdebatkan isi buku sejarah dengan isu karangan disosial media.

Akhirnya memang satu hari saya capek. Saya kemudian memilih diam. Setiap kali ada isu lagi, saya diam saja. Mungkin hanya mendengar lalu berkata, oya?. Saya akhirnya tidak perduli. Saya memilih memanfaatkan waktu untuk mendidik keluarga kecil saya saja. Bahwa ditengah perang informasi seperti sekarang ini, tidak ada informasi yang benar terkecuali kita ketahui jelas asal-usulnya, tidak ada informasi yang valid tanpa pernah kita crosscheck kepada faktanya. Sementara bagi mereka yang sudah keburu percaya kepada sosial media. Ya sudah, mungkin dalam kesesatan itu lalu mereka bisa bahagia.

© Yordansyah Djon Gomarathonda
www.yordansyah.com

Status

PENGADILAN HAM

Belajar dari sedemikian buruk dan kejinya fitnah dan ghibah dalam medan pertarungan politik beberapa bulan ini. Alangkah baiknya, langkah politik pertama yang dilakukan pemerintahan baru adalah sebuah upaya rekonsiliasi. Rekonsiliasi disini bukanlah sebagai drama romantik para elit. Sekedar berpelukan, cium pipi kanan-kiri, menyanyikan lagu kemesraan sambil menitikan airmata dan bergandeng tangan. Rekonsiliasi elit kebanci-bancian seperti ini bukan hal yang penting bagi para jelata. Rekonsiliasi paling utama dinegeri ini adalah mengembalikan kepercayaan rakyat kepada sejarahnya, mengembalikan keyakinan publik terhadap republiknya.

Rakyat hingga detik ini masih bertanya, bagaimana mungkin seorang Indonesia dibunuh atau dihilangkan oleh pemerintahnya sendiri tanpa pernah terpenuhi dan dipenuhi haknya sebagai warga negara?. Yang dibunuh itu belum tentu seorang Anti-Indonesia, yang dihilangkan itu belum tentu seorang Anti-Pancasila, sangat bisa jadi mereka terbunuh dan hilang sebagai Manusia Garuda. Seorang Anti-Rezim tidaklah sama dengan seorang Anti-Negara. Setiap warga negara memiliki hak untuk tidak sependapat dengan pemerintahnya, karena Anti-Pemerintah bukan berarti ia menolak kebangsaannya, kenegaraannya. Sangat boleh jadi, menjadi Anti-Pemerintah adalah salah satu jalan dalam mencintai Indonesia.

Pengadilan Hak Asasi Manusia adalah jawaban paling logis bagi pemerintahan baru dalam upaya rekonsiliasi nasional. Mengembalikan hak-hak hidup bagi para jelata adalah sebuah penghormatan tertinggi kepada kemanusiaan. Membangkitkan kepercayaan dan kebanggaan diri sebagai bangsa yang beradab. Kembalikan hak-hak warga negara kepada mereka yang kemarin terbunuh dan hilang. Cari para pelakunya, tangkap dan tegakan hukum seadil-adilnya. Membiarkan sejarah bangsa sebagai misteri yang tak terungkap adalah sebuah skandal yang tak bisa lagi dilanjutkan.

Kembalikan keyakinan kami bahwa pemerintah itu ternyata memang ada. Kembalikan kepercayaan kami bahwa menjadi warga negara dinegeri ini ada gunanya.

© Yordansyah Djon Gomarathonda
www.yordansyah.com

Status

CATATAN (ULANG) POPULISME

Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal dua orang raksasa populis yaitu Soekarno dan Abdurrahman Wahid. Keduanya memiliki kesamaan, sangat populer dan memiliki pengikut fanatik. Sampai dengan hari ini, fanatik Soekarno masih sangat curiga bahwa kemungkinan Soekarno masih hidup. Sementara fanatik Abdurrahman Wahid telah lama mengangkatnya sebagai seorang Waliyullah. Kedua tokoh populis yang bahkan tercatat secara khusus dalam perhatian bangsa-bangsa lain.

Yang menarik, bahwa kedua populis ini adalah berasal dari sipil dan sama-sama kurang disenangi oleh pihak militer. Tahun 1952, tiba-tiba saja ada sebarisan tank dan artileri berat mengarahkan moncongnya ke Istana Negara. Sebuah pesan untuk Soekarno. Bukan, bukan ulah tentara Belanda atau Jepang, itu ulah tentara kita sendiri. Tahun 2001 sejarah itu terjadi lagi, dalam sebuah gelar pasukan ratusan moncong tank dan artileri berat mendadak mengarah ke Istana Negara. Sebuah pesan untuk Abdurrahman Wahid. Bukan, bukan ulah tentara diraja Malaysia atau Australia, itu ulah tentara kita sendiri. Yang juga menarik, bahwa kedua tokoh populis Indonesia itu sama-sama mengakhiri pemerintahannya dengan apa yang kita sebut dengan Coup De Tat. Dijatuhkan oleh sinkronisasi antara militer dan dewan rakyat (sipil).

Tahun 2014 ini, Indonesia kembali dipimpin oleh seorang tokoh populis. Tentu ia tidak sebanding dengan seorang Soekarno atau Abdurrahman Wahid. Tetapi sangat perlu dicatat, bahwa ia telah berhasil mengalahkan seorang tokoh militerisme yang cukup berpengaruh dalam PEMILU. Kemenangannya beberapa saat ini merupakan sebuah bahan yang pantas untuk dianalisa dalam laboratorium sejarah Indonesia. Seberapa besar kemampuannya sebagai seorang sipil dalam menghadapi sensitifitas militer kedepan?. Seberapa hebat ia mampu menjalankan langkah politik populisnya tanpa dukungan dominasi suara diparlemen?.

Banyak orang saat ini sibuk membicarakan tentang sejarah baru, sementara saya merasa masih harus tetap menunggu, karena bukan tidak mungkin ia pun menjadi sebuah catatan sejarah yang berulang.

© Yordansyah Djon Gomarathonda
www.yordansyah.com

Status

QURAISH SHIHAB

Saya kira seluruh manusia diatas bumi itu tidak ada yang sempurna. Ketidak sempurnaan itu sunatullah, bahkan karena ketidak sempurnaan itu kita kemudian terpilih menjadi manusia. Begitu pula tentang guru, ahli, cendikia hingga Al-Ustadz. Tentu saja mereka bukan seorang yang maksum. Punya kekeliruan, kesalahan, ketidak benaran, kekurang tepatan. Tetapi apakah lalu ketidak sempurnaan itu, harus disikapi dengan olok-olok, ghibah bahkan fitnah?. Apakah lalu ketidak sempurnaan itu lalu harus direspon dalam bentuk pengumuman, sosialisasi, pembunuhan karakter seperti makian dan kutukan?. Memang sudah berapa banyak sih, karya yang sudah dibuat para pencela itu?. Berapa banyak sumbangan pemikiran yang telah diberikan kepada khasanah agama oleh para pemaki itu?. Berapa banyak kerja yang sudah dilakukan dalam membangun keagamaan masyarakat oleh para penggunjing itu?. Tidak setuju dan tidak sependapat adalah bukan suatu hal yang terlarang. Kita boleh menolak, kita boleh tidak mengikuti, kita boleh meninggalkan. Tetapi mengapresiasikannya dengan buruk, dengan tidak baik, tidak akan memberi apapun, selain mencemari wajah sendiri. Bahkan lebih pedih lagi, mencemari kejernihan dan kehormatan dari keyakinan kita semua.

Status

KEBERPIHAKAN MEDIA

Sebelum PILPRES saya sudah mengkritik: media kita tidak bebas politik, media kita tidak netral. Seorang wartawan senior buru-buru japri: media boleh berpihak, tetapi hanya kepada kebenaran. Saya sendiri masih tetap tidak setuju pandangan ini. Kalau pembaca berpihak itu wajar, tetapi kalau sumber informasi berpihak – lalu apa lagi yang bisa didapat oleh pembaca selain opini?. Bukankah kebenaran politik pun relatif, dari sudut mana kepentingan seseorang itu berasal?. Dalam politik seseorang hanya menggunakan kaca mata kuda, hanya pandangan yang diyakininya yang maha benar yang lain wajib salah. Tidak perduli materialisma, dialektika apalagi logika. Akhirnya PILPRES terjadi, media berpihak kekiri dan kanan, kemudian berujung saling tekan dan tuding. Semenjak kampanye PILPRES, saya jarang sekali baca berita. Kalaupun membaca, saya harus mencerna berulang-ulang, ini dokumentasi yang nyata atau hanya pendapat yang dikemas menjadi berita.

Status

PERANG KEMANUSIAAN

Seperti yang saya pernah sampaikan bahwa Perang Palestina saat ini bukan Perang Agama. Karena di Israel juga ada Muslim. Bahkan banyak tentara Israel itu Muslim. Saya pernah memiliki data informasi, banyak tentara Israel Muslim itu mendapat bintang perang karena keberanian mereka. Saya pernah memiliki data, di Israel ada sekolah Sufisme, yang muridnya bukan hanya Muslim tetapi juga Kristen, Yahudi dan Atheist. Yang salah satu mata pelajaran hariannya, adalah mengeja lafal Laa Ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah dalam bentuk seperti Yoga. Banyak lagi yang lain. Sebaliknya di Palestina sendiri banyak sekali pejuang beragama Kristen dan Yahudi. Yang hidup dan mati berjuang untuk Palestina. Bekas duta besar Palestina sebelum sekarang itu beragama Kristen Ortodox. Waktu Intifada Kedua, para pejuang yang terdesak pertempuran bersembunyi di Gereja tempat lahirnya Isa AS (Yesus). Dan rahib-rahib disana keluar, berjejer mengelilingi gereja, menantang tentara Israel. Banyak lagi yang lain. Jadi kita tidak bisa mengkotakan sebagai agama melawan agama. Apa yang terjadi sebenarnya adalah sebuah kejadian kemanusiaan. Antara mereka yang didukung oleh negara kuat melawan mereka yang didukung negara lemah. Dan kita berpihak kepada yang lemah. Demikian.