Status

SUBSIDI TAFSIR

Saya diminta masukan untuk Gubernur soal program Khatam Al-Qur’an. Saya rasa sudah baik, hanya meralat penggunaan bahasa saja. Mengkhatam itu berarti menamatkan, dalam pengertiannya menyelesaikan bacaan. Itu baik sangat baik. Tapi satu juga yang cukup darurat adalah upaya menggeser pengertian kata mengaji. Kata mengaji itu plesetan, orang kita memang senang menyingkat kata, mengaji itu maksudnya mengkaji. Mengkaji berbeda dengan membaca, mengkaji adalah memahamkan ayat. Mengaji atau mengkaji maksudnya membaca, menerjemah lalu memahami. Sebuah proses yang jauh lebih panjang dari mengkhatam.

Yang saya kritik kepada pemerintah atas niat baik ini adalah kalau kita ke toko buku Tafsir Al-Quran itu mahal. Maka saya termasuk tidak percaya kawan atau saudara saya itu sebagian besar sudah pernah mengaji (mengkaji). Kalau hanya mengkhatam (menyelesaikan bacaan) saya yakin seumur hidup pasti pernah. Silahkan sweeping kerumah orang-orang Muslim secara acak, apakah ada buku Tafsir dirumah mereka?. Saya jamin dibawah 50% tidak ada, pertama karena tidak tahu, kedua karena memang 30 juz kitab itu mahal. Dirumah saja, saya hanya sanggup menyimpan Tafsir Al-Azhar dari HAMKA, Al-Misbah dari Quraish Shihab, Fi Zilalil Qur’an dari Sayyid Qutb dan Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an dari Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath- Thabari. Karena saya memang orang miskin.

Sebagai Muslim jujur saya menghimbau pemerintah lebih baik mensubsidi Kitab Tafsir dan Hadist ketimbang BBM.

Status

HAMAS DI INDONESIA

Saya kira keberadaan perwakilan HARAKAT AL-MUQAWAMAH AL-ISLAMIYYAH yang biasa disebut singkat sebagai HAMAS di Indonesia itu juga penting. Sama pentingnya dengan keberadaan perwakilan FATAH. Keduanya adalah kekuatan politik yang mendominasi Palestina. Tetapi hendaknya keduanya tetap berada di bawah kendali, satu ruang satu atap dengan Kedutaan Besar Palestina, jangan terpisah. Terpisah juga untuk apa?, kan seluruh faksi Palestina itu tujuannya sama, yaitu Palestina merdeka. Kita tidak perlu apriori, karena ada stempel-stempel negatif terhadap HAMAS di Australia, Uni-Eropa, Amerika Serikat atau Inggris. Termasuk juga stempel teroris yang diberikan Mesir dan Saudi Arabia. Kita perlu paham stempel itu karena HAMAS merupakan organisasi sayap dari Ikhwanul Muslimin yang diharamkan dan terlarang paska kejatuhan Muhammad Mursi Isa al-‘Ayyat pada Juli tahun lalu.

Tetapi bukannya HAMAS itu melakukan perjuangan garis keras?. Contohnya sayap brigade militer Izz ad-Din al-Qassam?. Setahu saya setiap organisasi pejuang didaratan manapun dibumi pasti melakukan perjuangan garis keras. FATAH pun melakukan perjuangan yang sama keras dulunya, ingat kejadian internasional Black September. PLO itu berapa tahun perang dan menjadi terror di Eropa dan Amerika?, sampai Yasser Arafat datang keforum dunia pun pakai pistol dipinggang. Tapi kemudian Abu Ammar merubah jalan juang menuju jalan diplomatik. Jalan ini dikecam karena dianggap negosiatif, tetapi terbukti sukses. Dunia akhirnya sadar ternyata Palestina itu juga beradab, bisa diajak bicara, bisa komunikasi, bukan hanya lempar granat. HAMAS juga menyadari itu mereka juga menggunakan jalan diplomatik. Termasuk mereka yang mendatangi Dewan Rakyat kemarin. Jadi dalam menuju kemerdekaan, diperlukan dua kombinasi itu, jalan militer dan diplomatik, keduanya lumrah dan umum terjadi dibelahan bumi manapun. Kita dulu waktu mau merdeka bukan hanya rapat dan diskusi saja lalu tiba-tiba proklamasi dan diakui dunia, kita juga menggunakan perjuangan garis keras. Berapa banyak orang Belanda dan Jepang kita bunuh, apa lalu sekarang kita termasuk negara teroris?.

Maka saya fikir persoalan perwakilan organisasi ini hanya persoalan administratif internal mereka saja. Membuka perwakilan diarea kedutaan adalah hak mereka. Issue ini terangkat dan menjadi sorotan, karena Anggota Dewan Rakyat kita saat ini terlalu cepat kaget dan norak. Karena seumur-umur baru bertemu orang HAMAS, lalu girangnya bukan main, kemudian teriak-teriak kemedia. Padahal malah menunjukan bahwa dia itu kuper.

Status

SEORANG MURID YANG BURUK

“Terlalu banyak paham dikepala anda. Kini tiba saatnya, idealisme dan ideologi itu diungkap dalam bentuk disain.” Saya terdiam, mencoba berfikir namun bingung. Saya merasa belum cukup ilmu untuk menjadi sarjana. Tetapi Bapak Dekan dihadapan saya berpandangan lain. “Apa yang ingin anda buat?”. Senyum khasnya seperti biasa. “Mungkin pusat kebudayaan Islam pak. Mengupas Islam tradisonalis yang abangan.” Jawab saya ragu. “Kita ini arsitek. Produk yang kita buat adalah produk budaya. Tidak ada puritan atau abangan. Pekerja Budaya seperti kita, boleh berpihak tetapi tidak sesinis itu. Katakan Islam ya Islam, Tradisional ya Tradisional, cukup itu saja. Cap yang anda gunakan terlalu tendensius.” Senyumnya makin tegas, mengundang berlapis-lapis perdebatan. Dan saya semakin terpojok oleh kemampuannya mengolah pertukaran fikiran.

Waktu SMA kelas satu, saya pernah membuat seorang Guru pelajaran Pendidikan Moral Pancasila meninggalkan sekolah. Atas nama kelas yang saya pimpin, saya mengkritik pelajaran yang ia ajarkan, sebagai pelajaran khayalan, tidak membumi dan tidak aktual. Bagi saya yang saat itu masih berseragam abu-abu, Pancasila adalah sebuah ide, bukan dogma atau doktrin. Soekarno tidak pernah menciptakan agama baru. Sehingga bisa saja penjabaran dan pemaknaan dari Pancasila itu dikritisi dan dievaluasi, agar diadaptasikan dengan kebutuhan zaman, realisme lapangan. Kritik saya kemudian dijawab dengan nilai PMP diraport yang merah. Lalu saya menghadap Kepala Sekolah. “Kakek saya seorang Masyumi. Bapak saya melawan PKI dan menggulingkan Soekarno. Apa kesalahan saya, hingga nilai rapor Moral Pancasila saya merah?”. Kepala Sekolah memukul meja dan mengamuk sejadinya. Nilai saya harus merah, karena hanya murid tak bermoral yang melawan guru. Namun yang tak pernah saya duga, ia memecat Guru Pancasila siang itu. Dan hingga hari ini saya terus menyesalinya.

Memperingati hari guru, banyak sekali catatan yang dapat saya tulis tentangnya. Namun saya tak mampu mengembalikan kenangan utuh dari bayang wajah-wajah mereka dikepala. Saya kangen, namun tak pernah tahu lagi dimana keberadaannya. Saya ingin kembali membungkuk dan mencium tangan-tangan mereka. Saya sadar, saya bukan murid yang baik, Mungkin murid terburuk yang pernah ada. Namun saya ingin mereka tahu, bahwa sebagai murid saya selalu menghormati dan menghargai kenangan atas mereka. Sebagai bagian sejarah yang senantiasa hidup dalam ingatan. Dan tak pernah pudar dan sirna.

Selamat hari guru

Status

POLITIK KOPI DAN GORENGAN

Saya adalah salah satu warga negara yang paling bersyukur serta gembira, bila menyaksikan ada partai atau koalisi politik yang pecah atau bubar disaat sekarang ini. Karena akibat isi kepala dan kreasi tangan mereka itu pula, yang menyebabkan terjadi perpecahan didalam masyarakat. Lihatlah potret-potret yang tergantung didinding kehidupan lingkungan kita. Atas nama politik, antara anak dengan orang tua kehilangan kata-kata, saudara dengan saudara lenyap rasa percaya, bahkan sahabat dengan sahabat tak lagi mesra. Catat: bahkan atas nama politik pula, manusia hari ini telah sanggup bahkan handal untuk menggadai atau menjual Tuhan-nya.

Maka bila ada partai dan koalisi politik pecah atau bubar, saya akan berdiri dari tempat duduk sambil bertepuk tangan. Karena Tuhan yang tergadai dan terjual itu, memang telah mengatur alam raya dengan penuh rotasi dan dinamika. Bahwa selalu ada arus balik, dalam setiap hukum pasang surut kehidupan. Sebagai bukan politisi, bukan partisan, sekaligus juga bukan manusia yang mampu memperdagangkan Tuhan. Saat ini saya ingin menghibur diri sepuas-puasnya. Menyaksikannya politisi saling gebuk-gebukan diantara mereka sendiri, dengan riuh, tepuk tangan, terbahak, tentunya sambil ngopi dan nyamil gorengan.

Status

GUBERNUR CINA

Mungkin banyak sekali saat itu orang bertanya, ada apa dengan isi kepala Soekarno, hingga ia memilih Gubernur seorang Cina. Henk Ngantung bukan seorang birokrat, tak punya pengalaman administratif, pendidikannya hanya setingkat SMP, bahkan melukispun ia hanya autodidak. Satu-satunya alasan politik adalah Henk anggota LEKRA (lembaga seni yang didirikan Aidit dan Nyoto dari PKI). Namun terlalu banyak kiranya orang yang lebih pantas dari PKI untuk memimpin Jakarta. Kenapa harus Henk?. Henk seperti Affandi. Ia tidak mengerti Marxisme apalagi Leninisme. Kerjanya hanya melukis saja. Lukisannya pun hanya Realis, bukan Social-Realism yang komunis itu. Tetapi berdebat dengan Soekarno tidak gampang, isi kepalanya tidak standart, dari dulu bahkan hingga detik ini. Bila kita mempertanyakan keputusan Soekarno memilih Henk Ngantung adalah sama saja kita mempertanyakan, kenapa kita harus membangun Masjid seraksasa Istiqlal?. Kenapa ada Tugu Monas, Istora Senayan (Gelora Bung Karno), Gedung Conefo (DPR/MPR), Pacul Raksasa di Pancoran atau Hotel Indonesia?. Kalau saja ditahun-tahun Vivere Pericoloso itu sudah ada anak alay, maka mereka akan mencap Soekarno itu lebay.

Dan lagi, kenapa harus Cina?. Kembali lagi isi kepala Soekarno memang tidak standart. Ia terlalu paham banyak hal. Melampaui masanya, futuristik, bahkan untuk manusia diera millenium saat ini. Kalau Soekarno itu level keturunan Homo Sapiens yang modern, maka kita ini masih level keturunan Pithecantropus Erectus – masih manusia gua. Soekarno bukan seorang yang buta huruf, ia selalu membaca dan membaca. Ia bukan produk manusia klasifikasi Chinezenmoord pada tahun 1740. Ketika harga gula jatuh di Batavia, Belanda mengalami perlawanan orang-orang Cina yang mereka kolonisasi sebagai tenaga buruh. Orang-orang Cina yang kekurangan bayaran mengamuk, mereka memenggal 50 opsir Belanda di Meester Cornelis (Jatinegara). Sebagai langkah antisipatif Belanda menyebar gosip dan fitnah kepada tenaga buruh lain, dari Sumatera, Sulawesi dan Bali. Bahwa orang-orang Cina itu buas, senang makan bayi dan memperkosa perempuan pribumi. Maka atas nama anak-istri, buruh-buruh kurang pendidikan itu mencabut badik dan keris dan menyerang Pecinan. Terjadilah preseden Anti-Cina pertama, pembunuhan massal hingga 2000 orang, termasuk Lansia, Ibu Hamil dan Anak-anak. Dan Soekarno tentu saja tidak segoblok itu.

Ia mengenal Henk sebagai seniman, lelaki yang penuh semangat dan cukup kaya dengan karya sketsa perjuangan. Jakarta sebagai Batavia, adalah simbol dari tahta imperialisme dan kolonialisme Belanda ratusan tahun. Soekarno ingin merubahnya, menjadi kota yang dibebaskan, kota yang dimerdekakan. Kota yang bukan lagi singgasana Gouverneur-Generaal. Maka ia tidak butuh seorang birokrat atau ahli adminsitrasi bagi Jakarta. Birokrat atau Ahli bisa direkrut dan dibayar. Ia jauh lebih butuh seniman yang memiliki insting dan bakat untuk membentuk wajah baru bagi Jakarta. Sayangnya mimpi itu sirna, baru satu tahun menjabat, Soekarno jatuh. Henk ditangkap tentara dan dituduh terlibat G30S. Namun hingga ia wafat ditahun 1991, tak ada satupun yang membuktikan bahwa ia tahu dan terlibat gerakan Untung. Bahkan tak ada cukup bukti bahwa ia seorang komunis dan PKI. Henk hanya melukis dan kembali melukis saja. Ia tak pernah berhasil dibunuh oleh tentara. Karena seorang seniman hanya ingin mati bersama karyanya.

Status

SEDANG APA ANDA SORE INI

Sedang apa anda sore ini?. Saya sedang duduk diruang keluarga. Memangku sebuah buku, bersama donat buatan ibu, kopi seduhan istri dan rokok kretek dalam negeri. Sementara putri saya mengerjakan pekerjaan rumah. Putra saya belajar memahami angka bersama ibunya. Sebuah pemandangan sederhana. Namun perlu anda tahu bahwa saya tetap merasa begitu mewah.

Sudah berapa hari ini, kawan saya Omer dari sisi kota Rafah, melaporkan perkembangan keadaan disana. Serangan udara Israel paska gencatan senjata, tak pernah berhenti menghantam Gaza. Fighting Falcon F16, Drone dan Tank memborbardir Gaza dari pagi kesiang, dari sore kemalam. Menjatuhkan berton-ton peluru dan roket keatas pemukiman penduduk. Membunuh para jompo, ibu hamil dan bayi yang bahkan tak sempat bangun dari atas tempat tidur mereka. Lelaki seumur saya disana, didetik yang sama, tak akan sempat membaca buku. Mereka sedang panik mengevakuasi keluarganya, atau dalam geram dan luka bertarung mengharapkan pembalasan.

Sedang apa anda sore ini?. Saya sedang berusaha tidak mengeluh. Meski udara panas Jakarta menyengat melelahkan tubuh. Karena Jameela dari Pengungsian Nussirat mengirimkan photo anak-anak yang bertiarap sambil menangis. Ketika pesawat jet menderu diatas kepala mereka, yang dilanjutkan dentuman keras setelahnya. Mereka tak sempat mengerjakan pekerjaan rumah atau mempelajari angka bersama ibunya. Mereka dalam ketakutan, yang bahkan tak kan sanggup saya membayangkannya.

Sedang apa anda sore ini?. Sesederhana apapun yang saat ini anda kerjakan, patutlah anda bersyukur. Anda bukan di Gaza, atau anda tak pernah tahu apa yang terjadi di Gaza. Karena setiap kali menerima khabar dari sana, saya mengusap airmata.

© Yordansyah Djon Gomarathonda
www.yordansyah.com

Status

KEBENARAN SOSIAL MEDIA

Semenjak keluarga melek facebook, saya kadang stres sendiri. Karena derasnya informasi melalui sosial media begitu berhasil mempengaruhi opini mereka mengenai banyak persoalan. Dari obat-obatan, gaya hidup, keagamaan, politik, ekonomi dll. Yang membuat saya stres adalah ketika informasi itu dikonsumsi begitu saja dan sudah dianggap sebagai kebenaran. Kemudian dijadikan acuan mutlak yang tidak boleh dibantah dalam tindakan praksis. Padahal informasi publik yang tidak dapat diketahui asalnya dan belum dicrosscheck kepada faktanya adalah informasi yang sama sekali sesat. Siapa saja sangat bisa menuliskan apa saja disosial media, termasuk informasi yang salah.

Yang paling luar biasa adalah ketika PEMILU lalu. Hampir setiap hari kami membahas PEMILU dimeja makan hanya berdasarkan tulisan di Sosial Media. Dan saya duduk disitu sebagai seorang pembantah. Bisa dibayangkan nasib saya yang harus menjelaskan ulang satu-persatu tentang berbagai isu. Contoh saja, “Ternyata bapaknya si B itu keturunan komunis, ibunya itu gerwani!. Masak Indonesia mau dipimpin komunis?”. Saya menjawab, “Setahu saya itu isu, malah bapaknya si A itu yang jelas marxis. Semua orang tahu benar bapaknya si A itu tokoh Partai Sosialis Indonesia. Semua orang tahu benar bapaknya si A itu Anti-Agama. Itu isu pembalikan fakta.” Kemudian terjadi perdebatan, seakan saya berpihak kepada capres yang satu dan yang lain berpihak kepada capres yang lain. Padahal saya tidak bersedia berpihak kepada siapapun. Saya hanya tidak bisa membiarkan ketidak benaran. Apa yang saya sampaikan bukan isu, itu tercatat dalam buku sejarah Indonesia. Dan fakta itu tidak terbantahkan dalam sidang sejarah era manapun. Sungguh saya sangat merasa rendah dan timpang ketika kita harus memperdebatkan isi buku sejarah dengan isu karangan disosial media.

Akhirnya memang satu hari saya capek. Saya kemudian memilih diam. Setiap kali ada isu lagi, saya diam saja. Mungkin hanya mendengar lalu berkata, oya?. Saya akhirnya tidak perduli. Saya memilih memanfaatkan waktu untuk mendidik keluarga kecil saya saja. Bahwa ditengah perang informasi seperti sekarang ini, tidak ada informasi yang benar terkecuali kita ketahui jelas asal-usulnya, tidak ada informasi yang valid tanpa pernah kita crosscheck kepada faktanya. Sementara bagi mereka yang sudah keburu percaya kepada sosial media. Ya sudah, mungkin dalam kesesatan itu lalu mereka bisa bahagia.

© Yordansyah Djon Gomarathonda
www.yordansyah.com