Catatan: PENJIPLAKAN!

Fragment 1.
Seorang kawan pelukis muda. Sedikit malu-malu ketika saya menengok kedalam studio kecilnya. Bukan karena studio itu hampir mirip kandang kambing. Namun karena didalamnya dengan mudah saya temukan, beberapa lukisan re-drawing Raden Saleh. Pesanan seorang cukong dari Pondok Indah katanya, untuk dipajang didinding kamar tidur gula-gulanya.
“Sori nih O, cuma buat makan”.
Saya cuma bisa nyengir. Tapi dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa dia tidak menjual karyanya sendiri?. Bukankah itu lebih membanggakan daripada menjual karya jiplakan. Namun saya sadar betul perjalanan menuju nama besar bukanlah mudah untuk seorang pelukis. Sementara isi perut memang bicara lain. Istrinya sudah hamil tua, sebentar lagi perlu uang untuk beranak. Hati sekeras apapun tentu akan lunak menghadapi persoalan seperti ini. Bahkan idealisme seorang seniman seperti dia.
Fragment 2.
Malam-malam pulang pacaran. Saya lewat gang gelap menuju rumah. Entah kenapa PLN selalu lupa mengganti lampu jalan. Sehingga berjalan digang ini harus hati-hati kalau tidak mau menendang anjing tidur. Tiba-tiba saya dikagetkan seseorang yang memeluk saya dari belakang. Dengan sigap, saya siku perutnya. Dia mengaduh, memegang perut, terjengkang kebelakang. Setengah meloncat, saya tekan lehernya ketanah dan tinju telah siap mengarah wajahnya.
“O,O, sabar O. Ini gue, Rahmat,O. Gue, temen lo!”
Setan alas!, kenapa makhluk unik ini senang sekali menggoda orang. Saya pikir tadi rampok, dijalan gelap mana bisa kenali orang.
“O gue cuma mo ngabarin. Bahwa gue berhasil nge-crack shareware dari lo itu. Limit 30 harinya udah bisa gue akalin. Nih lo pegang copynya satu, anak-anak mo gue bagiin juga. Gratis, gue sekarang resmi jadi hacker. Kalo lo punya shareware lagi bawa kerumah gue. Gue akalin dan gak bayar. Hehehe..”
Astaga, saya cuma bisa bengong melihat Rahmat Kutu Kupret – mahasiswa komputer yang kurus kering itu, menari-nari ala balerina sangking girangnya. Bagaimana kalau sang pemegang lisensi tahu bahwa softwarenya telah digratisin, padahal untuk registrasi saja delapan kali lipat gaji bulanan buruh pabrik botol Pulogadung. Rahmat, semoga lo sukses nak.
Fragment 3.
“Yak, siapa lagi, siapa lagi, siapa lagi. VCD-nya bu, VCD-nya pak. Tiga ribu, tiga ribu, tiga ribu!”. Suara ribut menyambut saya ketika melocat turun di kaki lima Kebun Pala.
“Ayo silahkan lihat bang. Ini vcd murah, isinya pasti wah, kalau ditonton membawa berkah”. Saya cuma nyengir, mencoba tidak perduli dan mencari-cari Metromini menuju rumah.
“Ayo lihat dulu bang, ada Mariah Carrey, ada Rinto Harahap, ada Ona Sutra. Silahkan dipilih dulu bang. Jangan sampai ketinggalan”. Mata saya cuma sebentar melirik, setumpuk VCD bajakan ditebar dan dikerumuni orang.
Sementara Metromini masih lama. Iseng-iseng akhirnya saya hampiri juga. Dilapak saya temukan, VCD dengan gambar perempuan bule berpakaian ketat. Labelnya Britney Spears.
“Berapaan nih?”. Saya iseng nanya penjual.
“Tiga ribu bang. Murah, murah, murah, murah”. Sang penjual sibuk menjawab dengan speakernya.
“Ada joroknya gak nih?”. Seorang ibu gemuk disebelah, tersenyum mendengar pertanyaan saya.
“Wah ini VCD musik bang, bukan bokep. Kalau beginian sih paling bikini doang”. Jawab penjualnya serius.
“O, begitu, kirain ada Britney Spears lagi ngupil. Kan jorok juga namanya“. Beberapa orang disekitar saya tak bisa menahan tertawa.
Lalu ketika saya coba tinggalkan, sang penjual bertanya lagi, “Gak jadi nih bang?”.
Saya menggeleng, “Abis nggak ada sih yang saya cari”.
Penjual penasaran, “Apaan tuh bang, sini deh saya cariin?”.
Berlagak berfikir, “Saya nyari lagu Bumi Manusia. Penyanyinya Pramoedya Ananta Toer”.
Penjual membalik-balik tumpukan VCD-nya, mencoba terus mencari. Sementara saya telah meloncat kedalam Metromini yang telah tiba. Didalam bis menuju Pondok Kopi, saya membathin, siapakah sebenarnya yang salah.
Renungan Senjakala
Disekitar saya dan disekitar kamu terlalu banyak kaum penjiplak. Tetapi kita harus mencoba memfilterisasi mana yang wajar dan mana yang keterlaluan. Kawan Pelukis yang penjiplak, demi istri yang hamil tua dan sebentar lagi melahirkan. Kawan hacker yang mengcrack software demi teman-temannya yang tak mampu membayar lisensi. Tukang VCD tiga ribuan yang berjualan bebas mencari pelanggan yang tak mampu membeli VCD asli. Saya tidak tahu manakah diantara mereka yang benar dan salah. Tetapi mereka ada diantara kita dan telah menjadi bagian kenyataan.
Kenapa Pelukis idealis harus menjiplak?.
Kenapa tarif rumah sakit selalu mahal?.
Kenapa kawanku tak mampu membayar ongkos istrinya yang mau beranak?.
Kenapa ada cukong memesan karya jiplakan?.
Kenapa mahasiswa komputer menggunakan ilmunya untuk meng-crack shareware?.
Kenapa shareware selalu dibatasi waktu?.
Kenapa pemegang lisensi memberi harga yang mahal untuk software?.
Kenapa masyarakat sekitarku tak mampu membayar setiap lisensi software?.
Kenapa kaki lima berjualan VCD bajakan?.
Kenapa harga VCD Asli harganya mahal?.
Kenapa masyarakatku tak mampu membeli VCD asli?.
Kenapa aku tak mampu berbuat apa-apa?.
Kenapa tidak kucekik leher kawanku, yang telah menjiplak karya Raden Saleh demi istrinya yang sebentar lagi melahirkan?.
Kenapa tidak kuhantam saja wajah kawanku, yang mengcrack shareware untuk kawan-kawannya yang tak mampu membayar lisensi?.
Kenapa tidak kuinjak kepala tukang VCD tiga ribuan, yang berjualan demi hidup dan langganannya yang tak mampu membeli VCD asli?.
Kenapa aku bingung untuk berbuat apa-apa?.
Kenapa pemerintah tidak menekan rumah sakit agar tarifnya murah?.
Kenapa pemerintah tidak menekan pemegang lisensi agar harga software murah?
Kenapa pemerintah tidak menekan produser VCD agar harganya murah?.
Lalu siapakah lagi yang mesti kita salahkan?.
YORDANSYAH DJON GOMARATHONDA
http://www.yordansyah.com
Posted on 5 Juli 2002, in pamplet. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.