Sejarah Cinta

Dalam bukunya, Bung Karno pernah bercerita bahwa ketika masa remaja ia pernah jatuh cinta dengan seorang gadis kawan satu sekolah. Gadis itu sedemikian mengagumkan, hingga menjadi dambaan seluruh murid pria saat itu. Sayang cinta Bung Karno tidak pernah bertaut, hingga meninggalkan ingatan panjang tentang gadis belahan jiwanya tersebut. Beberapa puluh tahun kemudian, Bung Karno telah menjadi seorang aktivis dan tokoh pemuda Indonesia. Dan dalam sebuah kegiatan politik kedaerah, ia berkesempatan lagi bertemu dengan gadis pujaan dimasa sekolahnya itu. Alangkah kagetnya Bung Karno, karena gadis pujaan masa remajanya sama sekali tidak secantik dulu. Sampai-sampai Bung Karno bersyukur tidak pernah menjalin cinta dengannya.
Saat membaca catatan Bung Karno diatas, mungkin sebagian orang mencibir dan memandang betapa tidak sejatinya tokoh Indonesia kita yang satu ini. Tetapi buat saya, mungkin saja Bung Karno sedang berkelakar betapa sejarah terkadang melahirkan kenyataan yang sangat jauh dari yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Gadis yang dulu cantik dan penuh gairah, tidak selamanya akan terus indah. Akan tiba masanya ia akan berubah dan waktu akan menentukan nasibnya begitu saja. Dan bukan tidak mungkin, yang dulu cantik sekarang buruk. Yang dulu buruk, sekarang malah cantik. Seperti nasib Bung Karno sendiri yang mungkin dimasa remajanya hanyalah anak guru kampung yang dekil dan bukan pemuda pujaan. Suatu saat sejarah malah menunjuknya, menjadi tokoh yang sedemikian berpengaruh dan wibawanya akan menggetarkan setiap pemudi yang memandangnya. Kalau saja gadis itu tau Bung Karno yang memujanya akan sehebat itu, sudah dari dulu ia pasti tersungkur dan menyembahnya.
Pun dengan sejarah dua puluh satu tahun SMPN 139 yang dulu. Tidak akan pernah terbayang bahwa saya akan menjadi seperti ini. Tidak pernah terbayang bahwa kawan sebangku saya Teguh Setiawan yang dulu kurus kering tapi jenius itu akan menjadi salah satu pimpinan proyek pengeboran minyak. Atau kawan sebangku saya dikelas berikutnya Eko Punto Pambudi yang kecil, kelimis, pemalu tetapi nyentrik itu akan menjadi disainer koran ternama. Tidak pernah saya duga sebelumnya, kalau kawan akrab saya Tri Wahyudi yang kurus, berkepala besar dan senang nyengir itu suatu saat akan menjadi pria flamboyan dan pujaan banyak perempuan. Atau kawan dekat saya Friska yang cantik, kutubuku dan pintar itu akan menjadi seorang dokter gigi dan pernah mereparasi gigi saya yang buruk. Semua terjadi begitu saja, sejarah berbicara tanpa ada bayangan-bayangan sebelumnya.
Begitupula cinta. Tidak usah menyebutkan nama, saya masih ingat sekali cerita cinta yang pernah bertebaran dibangku sekolah kita. Cinta monyet dari jaka dan dara ingusan yang malu-malu dan begitu sederhana. Saya sendiri sudah lupa, siapa saja gadis idaman saya di SMPN 139 dulu. Saya hanya ingat satu nama, yang sempat saya jadikan target untuk dikejar menjadi pacar. Sayangnya memang hal itu tidak sempat terjadi, karena saya akhirnya malah memilih pacaran dengan gadis disekolah lain dan tidak pernah dengan kawan satu sekolah. Tetapi satu nama itu tetap berharga untuk saya telusuri selanjutnya.
Bila suatu hari nanti reuni akbar akan digelar, saya ingin sekali mencari dan menemukannya. Saya ingin menghampirinya, menjabat erat tangannya, menanyakan bagaimana khabarnya dan saya ingin katakan bahwa saya pernah mengaguminya. Tidak mengikuti Bung Karno, saya akan berdiri jantan dihadapannya layaknya anak lelaki bercelana pendek biru delapan belas tahun yang lalu. Dan saya tidak begitu perduli, apakah dia masih secantik dan bergairah seperti dulu. Karena buat saya, bagaimanapun namanya pernah ada dan tercatat dalam perkembangan hidup saya. Dia adalah sejarah yang akan selalu saya kenang dengan senyum gembira.
Catatan Kaki:
Tulisan ini dipersembahkan kepada Komunitas Alumni SMPN 139 Jakarta Timur Angkatan 1990
YORDANSYAH DJON GOMARATHONDA
http://www.yordansyah.com
Posted on 13 September 2008, in pamplet. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.