Arsip Kategori: jurnal

The Black September

 

Seorang pengamat musik rock senior – yang kebetulan Yahudi - nyaris setahun lalu mengecam band Death Metal bernama The Black September dalam artikel sebuah majalah rock dengan judul Good Band, Terrible Name. Sebagai Yahudi, ia menganggap bahwa nama itu terlalu rasial, bahkan diparalelkan dengan kegilaan menamai sebuah band dengan nama The Ku Klux Klan. Lalu apakah sebenarnya nama The Black September?.  Apakah benar ia sama dan sejenis dengan sebuah aksi anti masyarakat kulit hitam Amerika Utara di masa silam?.

Bila kita berdiri didepan bingkai sejarah, maka kita dapat simpulkan bahwa pendapat pengamat musik itu salah. The Black September sesungguhnya dibagi menjadi dua pengertian. Pertama, The Black September sebagai suatu peristiwa tragis yang terjadi antara September 1970 hingga Juli 1971. Dimana tentara Yordania atas perintah Raja Hussein Bin Talal, telah melakukan pengusiran berdarah terhadap pejuang The Palestine Liberation Organization (Munazzamat at-Tahrir al-Filastiniyyah - PLO) dan pengungsi Palestina di tepi timur Sungai Yordan, hingga menumpas 3500 orang Palestina dalam pertempuran yang mengerikan. Kedua, The Black September sebagai sebuah gugus tugas komando khusus PLO dengan agenda membalas dendam terhadap beberapa pihak yang dinilai bertanggung jawab atas kejadian diatas.

Refleksi Sejarah Atas Tragedi September Hitam

Tragedi The Black September sesungguhnya bukanlah akibat kesalahan satu pihak maupun mendadak. Ia merupakan sebuah gumpalan persoalan yang kemudian berujung pada kekerasan yang berlebihan. Pertama, pemerintah Yordania sejak awal telah gagal menguasai keadaan dalam mengantisipasi membludaknya jumlah pengungsi Palestina paska Perang Arab-Israel 1948. Yang membuat mereka menjadi mayoritas, melebihi jumlah masyarakat Yordania sendiri. Kedua, Raja Hussein Bin Talal hanya mampu berkomunikasi dengan Yasser Arafat - faksi Fatah. Padahal PLO bukan hanya Fatah, PLO merupakan organisasi pejuang kemerdekaan dengan banyak faksi berhaluan sekuler, antara lain Nasionalis Kiri, Komunis, Sosialis, Sosial Demokrat dan Sosialisme Arab. Yang patut disesalkan lagi adalah bahwa dalam situasi tanpa pilihan, Raja Hussein begitu reaksioner memberlakukan darurat militer hingga nyaris melakukan genosida.

Ketiga, Yasser Arafat sendiri juga gagal menekan partner organisasinya untuk tidak melakukan kekacauan disebuah negara yang bukan negara mereka sendiri. Padahal pilihannya saat menolak tawaran Raja Hussein menjadi Perdana Mentri Yordania menimbulkan simpati terhadap idealisme pribadinya. Tetapi fakta bahwa PLO telah meremehkan otoritas militer Yordania dalam pengungsian, melakukan pembajakan pesawat internasional, bahkan berusaha meng-assasinasi Raja Hussein, telah mencoreng namanya dan PLO dimata internasional. Keempat, ikut campurnya negara-negara lain namun bukan dalam posisi yang netral dan bukan untuk tujuan menegakan perdamaian. Setidaknya kejadian ini melibatkan beberapa negara, antara lain Israel, Amerika Serikat, Soviet Rusia, Mesir dan Suriah. Bahkan militer Suriah melakukan pertempuran secara terbuka dengan militer Yordania, dengan alasan menghindari pembantaian pejuang Palestina lebih lanjut.

Refleksi Sejarah Atas Kelompok September Hitam

Membangun gugus komando khusus The Black September (Munazzamat Aylul al-Aswad) untuk melakukan pembalasan dendam seperti membantai atlit Olimpiade Israel di Jerman, menembak mati Perdana Mentri Yordania, lanjutan episode pembajakan pesawat, bom surat di Amsterdam, sabotase di Belanda dan Jerman, memang berhasil mencuri perhatian dunia – tetapi sebagai figur pelaku teror dan bukan sebagai masyarakat korban penganiayaan dan ketidak adilan yang sebagaimana seharusnya. Di samping itu operasi internasional The Black September menyebabkan konflik ini menjadi meluas bahkan terhadap negara-negara yang seharusnya tidak terkait dalam tragedi The Black September.

Ketika PLO terpukul mundur oleh militer Yordania ke Libanon, malah menimbulkan pergolakan baru dan perang saudara di negeri itu selama lima belas tahun. Ketidak puasan terhadap perkembangan keadaan atas kepemimpinan PLO dan operasi internasional The Black September, dapat terlihat dari lahirnya organisasi-organisasi baru berhaluan Fundamentalis Islam. Seperti The Islamic Jihad Movement in Palestine (Harakat al-Jihad al-Islami fi Filastin) pada 1979 atas inspirasi Revolusi Islam Iran. Lalu Hamas (Ḥarakat al-Muqawamah al-ʾIslamiyyah) oleh Sheikh Ahmed Ismail Hassan Yassin dalam masa Intifada Pertama. Keduanya merupakan sel dari gerakan internasional Ikhwanul Muslimin Mesir. Dan seperti kita tahu setelah Yasser Arafat wafat, menurunnya popularitas PLO, membuat Hamas berhasil memenangkan pemilu dan berkuasa sebagai otoritas Palestina semenjak 2007. Meski Hamas dan Fatah awalnya sempat berselisih, namun berita terakhir mengatakan mereka mulai berkonsiliasi untuk membangun pemerintahan sementara.

The Black September dan Rasialisme

Dari penjabaran sejarah diatas, dapat terlihat bahwa apa yang disebut sebagai The Black September dari awal hingga akhir, tidaklah hanya melibatkan satu negara bahkan satu ras saja. Ia merupakan kejadian dan operasi yang bersifat meluas dan internasional. Sehingga tidak ada alasan bagi siapapun menuding nama mereka sebagai simbol rasial apalagi disamakan dengan The Ku Klux Klan yang picisan dan memalukan itu. Dari balik pisau kritis yang saya torehkan disini, tetap tak dapat kita sangkal bahwa Yasser Arafat, PLO dan The Black September merupakan para pejuang kemerdekaan yang luar biasa. Kekurangan dan kelemahan mereka, harusnya dapat dijadikan cermin bagi organisasi penguasa baru lain dalam membawa Palestina kemasa depan.

Heroisme dan keberanian masyarakat Palestina, saya rasa di dunia ini tak ada lagi yang memungkiri. Namun Palestina perlu juga belajar dari Indonesia. Negeri korup dan bangkrut ini dahulu dibangun diatas berbagai ideologi dan kepentingan yang begitu beragam. Namun semua harus ikhlas menanggalkan semua itu, demi berdirinya sebuah negara yang kuat dan berdaulat. Palestina perlu memahami bahwa perbedaan pendapat tidak harus diselesaikan dengan senjata, karena masih ada otak dan lidah, yang dapat digunakan dalam perdebatan yang beradab. Saya selalu berharap Palestina dapat mencapai cita-citanya. Karena mereka telah lama berjuang dengan mengorbankan segalanya demi menjadi bangsa yang merdeka.

Photo:
1. Third Age

Referensi:
1. Palestinian People Wikipedia
2. Palestinian Liberation Organization

YORDANSYAH DJON GOMARATHONDA
http://www.yordansyah.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.