Arsip Kategori: resensi

Tentang Lulu

Hampir seluruh dunia mengecam kolaborasi Lou Reed dan Metallica. Saya katakan hampir, karena nyatanya memang tidak semua. Terutama sekali mereka yang sebelumnya telah mengenal Lou Reed. Dan yang kedua adalah mereka yang mempelajari mereka terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memaki. Saya yang dalam tanda kutip bukan pengagum The Velvet Underground, termasuk dari mereka yang kaget setengah mati, saat mendengar Lulu yang dirilis secara online pertama kali. Tidak, saya tidak merasa sampai kehilangan figur Metallica, seperti yang dihujatkan banyak penggemar lain. Hanya jujur saja, saya memang kehilangan gambaran terhadap hasil kolaborasi yang pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dalam analisa yang jujur, perlu kita sama-sama sadari bahwa Lulu bukanlah hasil dari kolaborasi yang paralel, senafas dan sebangun. Pertama, ia merupakan potret dari kombinasi dua generasi yang berbanding nyaris 20 tahun. Lou Reed adalah musisi seusia bapak saya. Ia dan The Velvet Underground sudah diatas panggung sejak tahun 1964. Sementara Metallica adalah musisi seusia paman saya yang paling muda. Merupakan band yang mulai naik panggung pada tahun 1981. Kedua, ia merupakan potret kombinasi dari dua figur yang tidak berada pada koridor musik yang sama. Dan sangat perlu dipahami keduanya memiliki dominasi serta pengaruh besar dalam habitatnya. Maka pantas pula kita simpulkan bahwa Lulu merupakan sebuah hasil dari benturan kuat yang mencengangkan.

Sebelum saya menulis blog ini, saya menyempatkan waktu untuk mendengarkan karya The Velvet Underground berjudul Sweet Jane. Mendengar lagu ini, membuat saya mengenali pola Lou Reed bernyanyi. Saya bahkan menjadi tidak terlalu yakin akan kategorisasi banyak orang tentang rock. Apalagi dibandingkan dengan Metallica dengan kategorisasi musiknya yang keras dan cepat. Sungguh suatu kekonyolan jika kemudian berharap Lulu menjadi musik yang solid dan bulat. Lulu telah dapat dipastikan menjadi bentuk yang abstrak dan dinamis. Lulu bukan Lou Reed semata, bukan pula Metallica saja, Lulu adalah perpaduan terliar mereka.

Kolaborasi Lulu tampaknya sejak awal memang tak bermaksud komersil, Lulu terlalu terbuka untuk bisa didengarkan secara bebas di Internet. Lulu pada puncak pemahaman saya adalah murni sebagai bentuk ekspresi seni yang mencoba melampaui batas-batas generasi maupun kategorisasi yang selama ini mengkotakan mereka kedalam warna-warna yang terpisah. Dan akhirnya perlu juga saya syukuri, seandainya saja posisi Lou Reed digantikan Ian Fraser Kilmister, maka Lulu tak pernah menjadi bentuk petualangan musik yang baru. Karena Motörhead dan Metallica adalah berasal dari satu kemah yang sama. Itu pula mungkin yang menjadi alasan James Alan Hetfield saat menolak ajakan David Scott Mustaine untuk membuat album supergrup antara Metallica dan Megadeth.

Lou Reed dan Metallica sebagaimana keinginan awal mereka saya rasa telah berhasil membuat karya kontroversial seperti saat Benjamin Franklin Wedekind pernah melakukan dalam novelnya. Terlepas apakah album itu cukup memuaskan bagi keinginan pasar mereka masing-masing. Bukankah seniman sejati seharusnya memang hanya berbhakti pada daya ciptanya dan bukan mengejar gemuruh pujian dan setumpuk uang?. Mungkin anda sendiri yang lebih tau jawabannya.. :)

Photo:
1. Yordansyah The Official Blog’s

Referensi:
1. Lou Reed & Metallica The Official Websites
2. Lou Reed The Official Websites
3. The Velvet Underground The Official Websites
4. Metallica The Official Websites
5. Lou Reed Wikipedia
6. The Velvet Underground Wikipedia
7. Metallica Wikipedia

YORDANSYAH DJON GOMARATHONDA
http://www.yordansyah.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.