Status

GAZA DAN PEMILU

Masih saya ingat benar, tahun 2012 – tidak jauh dari JAKARTA PEMILU, Israel melakukan Serangan Udara ke Gaza. Saya menerima sebundel photo dan dokumentasi realistis lapangan (bukan yang beredar di internet) dari aktifis kemerdekaan disana yang sangat mengerikan dan memilukan untuk bisa disebar luaskan kebeberapa kepala negara dan senator dunia. Salah seorang yang sempat saya kirimi adalah Presiden Yudhoyono. Sekarang, tahun 2014 – disaat INDONESIA PEMILU – Serangan Udara ke Gaza terjadi lagi. Ini mungkin kebetulan, tetapi yang saya heran kok waktunya selalu nyaris bersamaan.  Konfirmasi terakhir sudah mencapai 30 orang tewas.

Status

BERKACA PADA ISIS

Sebelum anda memilih besok, ada baiknya kita berkaca kepada tren baru bernama Al-Dawlah al-Islamiyah fī al-Iraq wa-al-Sham atau didunia asing dikenal dengan Islamic State of Iraq and Syria disingkat ISIS. Sebuah klaim negara baru yang berada diantara sebagian Iraq dan Syria. Kita jangan cepat tepuk tangan dulu karena ada sebutan Islamic State. Karena hingga saat ini tata pemerintahan ISIS ini adalah tidak ada dan apa yang disebut dengan pemerintahan itu sama sekali militer. Dimana jaminan kehidupan sosial warga sipil saat ini disana sangat tipis dan rentan. ISIS lahir akibat terjadinya kekosongan atau lemahnya pemerintahan dua negara akibat konflik. Pertama, Iraq akibat penyerangan Amerika Serikat dalam menjatuhkan Saddam Hussein. Setelah menguasai minyak dan merebut hak-hak kapital disana mereka kemudian minggat dan meninggalkan negara porak-poranda dalam konflik internal. Kedua, konflik panjang bharatayudha di Syria dimana pemerintahan Bashar Al-Assad tidak sanggup mempertahankan batas negara dan bergantung pada bantuan Rusia dan aliansi Syiah. Apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa didalam demokrasi adalah sama sekali wajar bila terjadi perbedaan pandangan serta sikap, tetapi itu bukan berarti konflik. Kalau anda pilih A dan saya pilih B itu bukan konflik, itulah demokrasi, beda itu biasa. Jadi kalau anda memilih besok, ingatlah bahwa anda sedang melaksanakan demokrasi, bukan melaksanakan konflik. Kalau anda terus berfikir konflik, lebih baik anda tidak usah ada di Indonesia, minggatlah ke Iraq atau Syria, karena Indonesia juga tidak rugi ada tidaknya anda. Politik konflik hanya akan melahirkan kekuatan ketiga sejenis ISIS baru di Indonesia. Indonesia jauh lebih penting dari kepentingan politik dua-empat orang. Indonesia jauh lebih penting dari kepentingan barisan partai-partai. Demikian. Selamat malam.. 

Status

MALAM MINUS SATU (08/07/14)

Seperti Balarama. Sepanjang bharata yudha telah saya buktikan untuk tetap berada diluar arena. Meski sebagai manusia biasa, tak dapat saya hindari, bahwa terkadang saya terbawa juga, untuk ikut menyerang dan membela. Hari ini, detik terakhir khurukshetra yudha sirna, adalah detik terakhir bagi saya menentukan sikap politik esok hari. Setelah beberapa hari mengembara dan bertanya pada beberapa orang yang saya percaya kejernihan dan kedalaman tata pandangnya. Ditambah istikharah usai Maghrib tadi. Akhirnya saya menyakini sebuah pilihan: SAYA AKAN BERPIHAK KEPADA KAUM SHUDRA. Mungkin pilihan itu tidak sesuai dengan pilihan sebagian kawan-kawan saya. Mungkin pilihan itu tidak sesuai dengan pilihan sebagian keluarga saya. Tetapi menurut saya, hal itu bukanlah suatu hal yang terlalu penting. Yang paling terpenting adalah bagaimana kita esok dapat melanjutkan hidup. Yang paling terpenting adalah bagaimana Indonesia esok dapat melanjutkan dirinya sebagai sebuah negara. Selamat memilih pemimpin Indonesia, selamat memilih pemimpin bangsa. Semoga Azza Wajalla Al-Karim memberkahi dan menyelamatkan kita semua. Amin.

Status

MALAM MINUS DUA (07/07/14)

Sambil menyeruput kolak biji salak, dipelataran masjid yang basah oleh tampias hujan. Saya nikmati obrolan santai dengan kawan lama sebelum sholat maghrib. “Sesungguhnya seseorang dapat dikatakan telah pantas menjadi pemimpin itu adalah ketika ia telah memenuhi syarat menjadi seorang Qadhi (Hakim). Maka ia secara pribadi harus bersih dan merdeka dari masalah hukum. Tak dapat dibayangkan apabila seorang Qadhi adalah seorang terpidana atau tersangka, seorang yang padanya masih terkandung masalah hukum. Nantinya ia tidak akan dapat mengambil keputusan secara bersih dan adil. Karena ia sendiri masih memiliki beban hukum yang akan mempengaruhinya dalam mengambil keputusan-keputusan.” Mendengar ini, saya ngakak. Karena pandangan ini sama sekali teoritis-fundamentalis, militan sekaligus puritan. Sebuah pandangan murni yang mengacu pada pokok ajaran para syaikh dalam tradisi pemerintahan agama. Sebuah sikap straight tanpa kompromi yang sudah lama ditinggalkan banyak orang seperti dia. Ketahuan sekali, kawan saya ini lebih sibuk dakwah dibanding terlibat gerakan politik. “Seorang Pemimpin yang Qadhi dalam upayanya menegakan keadilan, dituntut untuk mampu melakukan ijtihad (Mujtahid). Dasar kemampuan ijtihad itu adalah keilmuan atau pengetahuan, termasuk didalamnya pendidikan dan pengalaman. Tanpa keilmuan dan pengalaman, hampir dapat dipastikan seseorang tidak dapat melakukan ijtihad. Seorang awam tanpa ilmu, hanya mampu melakukan ijtihadnya berdasarkan logika. Padahal tidak semua keputusan dan kesimpulan dapat dilogikakan. Hasil dari Ijtihad adalah mengacu kepada dasar-dasar hukum yang nyata bukan kecurigaan dan apriori. Disamping itu pula, seorang Qadhi harus memiliki kestabilan. Seorang yang emosional, pemarah, sensitif, tergesa-gesa, tidak akan mampu melakukan ijtihad secara sempurna.” Saya terus saja ngakak sampai kawan saya itu bingung, karena ia merasa sedang tidak melucu. Dan ketika Iqomat mulai bergema, saya mulai menyadari bahwa ternyata kawan saya itu benar-benar sendirian dalam perjuangannya. Sambil berjalan kedalam, saya genggam pundaknya. Dan sambil tersenyum saya katakan, teruslah memikirkan agama daripada kekuasaan.

Status

IBU REMBANG ADALAH SAYA

Ketika banyak orang mengatakan DEMI KEPENTINGAN RAKYAT atau DEMI INDONESIA YANG LEBIH BAIK. Ibu-ibu di Rembang Jawa Tengah berkemah diantara traktor, tentara dan preman – berjuang demi masa depan mereka. Melawan rencana pendirian pabrik semen yang mengancam kerusakan tanah dan air didesa mereka. Saya jamin seratus persen, para Ibu Rembang ini adalah rakyat. Mereka bukan calon presiden, mereka tidak naik kuda, helikopter, jet pribadi, atau orasi menggelegar dipanggung dan televisi. Nama mereka disebutkan berulang-ulang dalam iklan ditelevisi, teks pidato, program debat politik, serta catatan saku dikantong tim sukses. Namun tak ada satupun dari elit dan kekuatan itu yang memperdulikan keadaan buruk mereka. Sebagai orang biasa, orang pinggiran, orang remehan, tak salah kiranya apabila saya menjadikan para Ibu itu sebagai potret. Ibu Rembang adalah rakyat, Ibu Rembang adalah saya.

Status

MALAM MINUS TIGA (06/07/14)

Sambil mengantar semangkuk kurma dan air putih, perempuan dengan hijab merah jambu itu tercenung dihadapan. “Kamu sendiri yang mengajarkan, agar kita selalu membela tetangga, keluarga, sahabat, siapa saja, yang teraniaya dan lemah. Karena berpihak kepada yang kuat tak akan memberi kita pelajaran apapun tentang keadilan dan kemanusiaan.” Sambil mendengar saya melihat. Putri kami bermain boneka. Putra kami bermain mobilan. Buah-buah cinta kami yang kini tumbuh bermekaran. “Semenjak awal aku melihat orang ini dihina, dilecehkan, diremehkan, melebihi batas kewajaran dan kemestian oleh orang-orang disekitar kita. Orang menertawakan tampangnya, perilakunya, agamanya, kesukuannya, keyakinannya. Melebihi sikap manusia terhadap manusia lain. Padahal yang melakukan itu adalah mereka yang berpendidikan bahkan mengaku berahlaqul karimah. Aku prihatin.” Tak terasa delapan tahun sudah kami pacaran. Belajar menjalani hidup diantara kelebihan dan kekurangan. “Aku tak perduli soal menang atau kalah. Buatku yang terpenting adalah sikap. Aku menentang penghinaan mereka. Aku menentang kebiadaban mereka. Aku menolak sebarisan dengan mereka. Aku berpihak kepada orang yang mereka rendahkan. Aku tunjukan diriku sebagai manusia. Aku tidak takut. Aku melawan mereka!.” Saya tersenyum menatap wajahnya yang kini memerah. Bersama matahari yang tenggelam dipenghujung senja, saya memeluknya dalam cinta.

 

Status

MALAM MINUS EMPAT (05/07/14)

Seperti biasa. Bila menemuinya dirumah, ia pasti berada diruang buku. Sepertinya ia memang tak pernah beranjak dari ruang itu. Senyumnya mengembang ketika mata tuanya menemukan saya berdiri dihadapannya. Masih seperti dulu. “Anakku. Abu Arkha Ibnu Muhammad. Pilihlah pemimpin yang dipilih oleh lingkungannya. Itu pertanda ia memang dipercaya. Bukan karena keturunan, kekayaan apalagi kegagahan. Pilihlah mereka yang terpilih dan dipilih. Jangan kau pilih mereka yang mengajukan dirinya sendiri menjadi pemimpin. Mereka yang merasa hebat dan tinggi dibanding yang lain. Azza Wajalla Al-Karim mengancam mereka yang takabur, sesungguhnya mereka tak memiliki penolong, azab membayang dijejak kaki mereka. Naudzubillah.” Dan seperti juga biasa, tak berapa lama dari itu, saya akan dijamu oleh berbagai hidangan khas. Satu hal yang selalu tak dapat saya lupakan Syayi Halib Hadramaut yang diracik oleh tangan dingin Ummi Umar. Selain teh dan susu, entah apa lagi yang ia campurkan kedalamnya dan saya selalu saja ketagihan. “Pilihlah pemimpin dari mereka yang sederhana. Bukan karena miskin, tetapi karena ia mampu membatasi diri. Bukanlah ia seorang salaf, bagi mereka yang senang berlebihan. Bukanlah ia seorang salaf, bagi mereka yang senang memamerkan. Seluruh Salafush Sholih hidup dalam kesederhanaan. Anakku. Al-Urduun Putra Abdullah, ingatlah kata-kataku ini. Bahkan Nabi-mu hidup begitu sederhana. Sepanjang umur, ia letakan pinggangnya diatas tikar dan menolak dibuatkan kasur.” Saya tertegun menatap wajahnya yang selalu teduh. Ia adalah guru sekaligus bapak, bagi pemberontak seperti saya. Dan ia begitu mengerti setiap badai yang sedang menembus relung hati.